Program Jendela Hati
Jatuh Bangun Perjuangan Hidup Santi
Melalui Jendela Hati Anda akan mendengarkan pengalaman nyata perjuangan di titik nol, di titik paling bawah kehidupannya. Di titik kesadaran bahwa manusia tidak berdaya dan hanya Tuhan yang mampu menyelamatkannya. Kisah hidup Santi, seorang guru yang terdorong untuk merantau ke Jakarta untuk memperbaiki nasibnya, merantau ke kota yang sama sekali tidak dikenalnya sebelumnya.
"Nama saya Santi. Umur saya sudah 60 tahun. Saya berasa dari Brebes, besar di Magelang dan sekarang bekerja di Jakarta. Dulu saya di Magelang menjadi pedagang kelontong untuk menghidupi saya dan mama saya. Dan satu hari seorang teman mengajak saya untuk masuk sekolah menjadi guru. Dan saya mengikuti saja karena saya tidak ingin hidup begini saja dan mau maju. Saya sering diejek oleh keluarga saya karena tidak sesukses orang lain."
Saya tidak puas dengan pendapatannya sebagai guru. Ia mulai menjual makanan dan mencari lowongan pekerjaan tambahan.
"Waktu itu saya meminta tolong kepada saudara saya untuk mencarikan pekerjaan di Jakarta, ternyata ada yaitu menjadi seorang guru pengganti."
Tahun 1980 Santi membulatkan tekad untuk merantau ke Jakarta. Sampai di Jakarta, Santi menemukan situasi yang berbeda dari harapannya.
Memang pada awalnya begitu sulit bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan di Jakarta. Berkat dukungan
"Akhirnya saya membulatkan tekad untuk pindah. Memang pada awalnya begitu sulit untuk saya untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan di Jakarta. Berkat dukungan kakak saya lambat laun saya menjadi kuat. Sebagai guru saya seringkali tidak puas dengan apa yang saya terima saat ini. Maka saya berusaha untuk membuat makanan kecil kemudian dijual. Tidak selamanya makanan kecil akan selalu disukai, ketika akhirnya saya berhenti untuk membuat makanan kecil. Kemudian ada seorang teman yang menawarkan pekerjaan sambilan untuk saya kerjakan setelah mengajar yaitu membantu di salon yang dimiliki oleh seorang majelis gereja. Akhirnya saya mulai belajar untuk bekerja di salon. Karena hal ini menimbulkan pertentangan di dalam sekolah tempat saya bekerja maka saya memutuskan untuk berhenti dan pindah ke sekolah yang dipimpin oleh besan kakak saya dan bekerja 15 tahun di sana."
Akhirnya Santi harus memasuki masa pensiun. Kini Santi hidup mandiri dengan usaha kecil yang ia miliki, berjualan air mineral galon dan gas.
"Saya mengucapkan beribu terima kasih untuk bantuan yang disalurkan oleh YASKI. Semoga saya bisa mengembangkan bantuan yang sudah diberikan kepada saya untuk membantu orang lain juga."
YASKI telah menyalurkan bantuan dana pinjaman usaha kepada Santi. Dana ini dipinjamkan tanpa dikenakan bunga. Santi melunasi pinjaman ini dengan mencicil Rp 200.000 per bulannya. Kini hanya tinggal 4 kali saja Santi sudah bisa melunasi biaya pinjaman yang ia terima dengan usaha yang tengah dijalaninya secara mandiri.
Sepenggal cerita di atas merupakan petikan program acara Jendela Hati.
Jangan lupa untuk terus ikuti program Jendela Hati secara lengkap, setiap Selasa, pukul 04:30 dan 23:00 WIB
hanya di Radio Heartline FM 100.6 MHz Karawaci.